BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Filsafat merupakan sikap atau pandangan hidup dan
sebuah bidang terapan untuk membantu individu untuk mengevaluasi keberadaannya
dengan cara yang lebih memuaskan. Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan
pemahaman membawa kita kepada tindakan yang telah layak, filsafat perlu
pemahaman bagi seseorang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan karena ia
menentukan pikiran dan pengarahan tindakan seseorang untuk mencapai tujuan.
Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang
mungkin ada baik bersifat abstrak ataupun riil meliputi Tuhan, manusia dan alam
semesta. Sehingga untuk faham betul semua masalah filsafat sangatlah sulit
tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian
dari luasnya ruang lingkup filsafat.
Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan ilmu
semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara cepat dan mudah.
Dan merupakan kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa
peradaban manusia sangat berhutang pada ilmu.
Ilmu telah banyak mengubah wajah dunia seperti hal memberantas penyakit,
kelaparan, kemiskinan, dan berbagai wajah kehidupan yang sulit lainnya. Dengan
kemajuan ilmu juga manusia bisa merasakan kemudahan lainnya seperti
transportasi, pemukiman, pendidikan, komunikasi, dan lain sebagainya.
Singkatnya ilmu merupakan sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan
hidupnya.
Seiring berkembangnya zaman saat ini banyak sekali terjadi ideologi
berfikir khususnya ditengah-tengah para pelajar atau masyarakat yang mengenyam
ilmu pendidikan tentang manfaat-manfaat ilmu yang mereka peroleh.
Berangkat dari ideologi pemikirian filsafat islam akan aksiologi atau nilai
kegunaan ilmu pengetahuan mahasiswa ataupun para pemikir handal akan dapat
mengklasifikasikan ilmu-ilmu atau pengetahuan yang mereka dapatkan agar berguna
sebagai asumsi untuk menelaah suatu pengetahuan yang akan dikembangkan lewat
teori Aksiologi dalam Filsafat Islam.
Di era saat ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang
dimanfaatkan ke jalan yang tidak benar, orang menguasai ilmu santet, bertujuan
dipakai untuk menyantet rival politiknya. Orang menguasai ilmu kekebalan untuk
mengeksploitasi orang lain demi keuntungan. Orang menguasai ilmu hukum untuk
menghukum orang lain ke jalan yang tidak benar seperti menyikapi suatu hal
praduga tak bersalah yang sampai dijebloskan kedalam buih jeruji besi, padahal
terang orang tersebut sama sekali berbuat kesalahan yang membuat hukuman itu
dijatuhkan, padahal sangat jelas sekali seumpamanya para koruptor yang telah
beberbuat setimpal diatas orang tersebut yang sudah jelas melanggar hukum, dan
membuat resah seluruh penduduk negara, masih dijatuhkan hukuman yang lebih
ringan dari mereka yang melenggarnya hanya sekelumit saja, apalagi yang sudah
jelas tidak bersalah. Penguasaan ilmu semacam ini jelas bertentangan dengan
fitrah manusia itu sendiri.
Oleh karena itu pembahasan aksiologi atau etika dalam ilmu pengetahuan
perlu dibahas agar para ahli khususnya para pelajar sangat penting mengetahui
aksiologi secara mendalam untuk mengimbangi pengetahuan mereka, terutama
setelah terjun ke ranah publik, agar nilai-nilai aksiologi dalam pengetahuan
terpenuhi.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan
aksiologi ?
2.
Bagaimanakah manfaat aksiologi bagi
perkembangan manusia?
3.
Bagaimanakah manfaat aksiologi bagi
ilmu pengetahuan islam?
4.
Bagaimanakah Sumbangsih Aksiologi terhadap Ilmu Pengetahuan dalam Islam?
C.
Tujuan Masalah
1.
Mengetahui definisi aksiologi
2.
Mengetahui manfaat aksiologi bagi
perkembangan manusia
3.
Mengetahui manfaat aksiologi bagi
ilmu pengetahuan islam
4.
Mengetahui Sumbangsih Aksiologi terhadap Ilmu Pengetahuan dalam Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Aksiologi
Aksiologi berasal dari
bahasa yunani yakni axio (nilai) dan logos (ilmu,teori)[1],
dengan demikian aksiologi berarti teori tentang nilai yang berkaitan dengan
kegunaan dari pengetahuan. dan aksilogi itu sendiri menyangkut nilai-nilai yang
berupa hal-hal yang baik atau buruk[2],
dan dalam definisi lain aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan
mengitegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia.[3]
Aksiologi dalam nilai
filsafat mengacu pada permasalah etika dan estetika dimana dalam maknanya etika mempunyai dua
pengertian yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian
terhadap perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan
perbuatan, tingkah laku, atau yang lainnya.
Sedangkan definisi
aksiologi dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah nilai kegunaan ilmu
pengetahuan bagi kehidupan manusia , khususnya kegunaan ilmu bagi etika.[4]
Dalam Encyclopedia
of Philosophy di jelaskan bahwa Aksiologi disamakan dengan beberapa
penilaian, berikut diantaranya[5]:
1.
Sebagai nilai untuk benda abstrak, dalam
artian sempit berarti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam artian yang luas
adalah mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran dan
kesucian.
2.
Sebagai nilai kata benda yang
bersifat konkrit, hal ini sering dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang
bernilai.
3.
Sebagai nilai kerja keras dalam
ekspresi menilai, memberi nilai atau dinilai.
Berangkat dari nilai-nilai aksiologi diatas dapat digambarkan
dengan jelas bahwa permasalahan utama adalah berkenaan dengan nilai. Dalam hal
ini adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan
tentang apa yang dinilai, sesuai nilai yang diterapkan dalam filsafat yang
mengacu pada masalah etika dan estetika (cabang
filsafat yang menelaah dan
membahas tentang seni dan
keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya; kepekaan terhadap seni dan
keindahan[6]).
Aksilogi adalah bidang
filsafat yang menyelidiki nilai-nilai. Nilai tidak akan timbul dengan
sendirinya, nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa yang digunakan dalam
pergaulan sehari-hari. Jadi, masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai.
Dikatakan mempunyai nilai, apabila berguna, benar (logis), bermoral, etis dan
ada nilai religius.[7]
Aksilogi dalam islam
adalah merupakan pilar ketiga dari bangunan ilmu pengetahuan, aksiologi dalam
islam mempunyai beberapa fungsi selain aksiologi juga merupakan cabang filsafat yang
mempelajari nilai secara umum, aksiologi juga dipahami sebagai bidang keilmuan
yang membahas kegunaan pengetahuan, dan
mengaitkan posisi ilmu-ilmu dengan kaidah-kaidah moral atau akhlak.[8]
Makna aksiologi dari
pemahaman filsafat islam itu sendiri adalah nilai ilmu pengetahuan yang
dikaitkan dengan berbagai akidah dan moral atau etika, dari sudut bagimanakah
manfaat atau kegunaan ilmu itu sendiri? Apakah baik atau buruk?, dalam
penerapan ilmu pengetahuan.
Dalam aksiologi, ada dua
penilaian yang umum digunakan yaitu, etika dan estetika. Etika adalah cabang
filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis tentang masalah-masalah
moral, kajian etika lebih berpacu kepada
perilaku, norma dan adat istiadat manusia.
Aksiologi dalam ilmu
agama islam adalah merupakan pilar ketiga dari bangunan ilmu pengetahuan yaitu
aksiologi merupakan suatu cabang filsafat yang mempelajari nilai secara umum.
Aksiologi juga dipahami sebagi bidang keilmuan yang membahas kegunaan
pengetahuan.[9]
Sementara itu cabang lain
dari aksiologi adalah estetika, yang mana estetika adalah merupakan bidang
studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan itu sendiri
mengandung arti bahwa didalam diri dari segala sesuatu terdapat unsur-unsur
yabg tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh
dan menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata
bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian.[10]
Aksiologi berkaitan
dengan seberapa besarkah ilmu itu berguna dan mampu memengarauhi kualitas hidup
dan berfikir manusia dalam menghadapi segala masalah yang terjadi terutama
terhadap suatau hal yang berhubungan dengan norma-norma, etika-etika dalam kehidupan
yang tengah dihadapi.
Aksiologi adalah ilmu
yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi, aksiologi
merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya timbul dari
pengetahuan, dan pengetahuan itu sendiri tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa
memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya serta dijalan
yang baik pula.[11]
B.
Manfaat Aksiologi Bagi Perkembangan Manusia
Aksiologi memberikan manfaat untuk mengantisipasi perkembangan
kehidupan manusia yang negatif sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi tetap
berjalan pada jalur kemanusiaan. Oleh karena itu daya kerja aksiologi ialah[12]
:
1. Menjaga dan
memberi arah agar proses keilmuan dapat menemukan kebenaran yang hakiki, maka
prilaku keilmuan perlu dilakukan dengan penuh kejujuran dan tidak berorientasi
pada kepentingan langsung.
2. Dalam pemilihan objek
penelahaan dapat dilakukan secara etis yang tidak mengubah kodrat manusia,
tidak merendahkan martabat manusia, tidak mencampuri masalah kehidupan dan
netral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik, arogansi kekuasaan dan
kepentingan politik.
3. Pengembangan
pengetahuan diarahkan untuk meningkatkan taraf hidup yang memperhatikan kodrat
dan martabat manusia serta keseimbangan, kelestarian alam lewat pemanfaatan
ilmu dan temuan-temuan universal.
Sedangkan menurut
Brameld, ada tiga bagian yang membedakan didalam aksiologi:[13]
1. Tindakan moral; dalam
bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika.
2. Ekspresi keindahan yang
melahirkan estetika.
3. Kehidupan sosio-politik.[14]
Lorens Bagus juga
merangkum beberapa pengertian dari aksiologi: pertama, aksiologi adalah
analisis nilai-nilai. Arti analisis adalah membatasi arti, ciri-ciri, asal,
tipe, kriteria, dan status epistemologis dari nilai-nilai tersebut. Kedua,
aksiologi merupakan studi yang menyangkut teori umum tentang nilai atau studi
yang berkaitan dengan segala yang bernilai. Ketiga, aksiologi adalah studi
filosofis tentang hakikat nilai-nilai.[15]
Nilai itu bersifat objektif,
tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai
tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur
suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian.
Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada
objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek
berperan dalam memberi penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur
penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai
pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah
kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.[16]
Jadi, aksiologi atau
etika itu adalah suatu studi tentang prinsip-prinsip dan konsep yang mendasari
penilaian terhadap perilaku manusia. Seperti contoh tindakan yang membedakan
benar atau salah menurut moral, apakah kesenangan merupakan ukuran dapat
dikatakan sebagai ukuran yang baik, apakah putusan moral bertindak
sewenang-wenang atau bertindak sekehendak hati. Sedangkan estetika sendiri
yaitu studi yang mendasrkan prinsip yang mendasari penilaian kita atas berbagai
bentuk seni.[17]
Disinilah ilmu harus di
letakkan proporsional dan memihak pada nilai- nilai kebaikan dan kemanusian.
Sebab, jika ilmu tidak berpihak pada nilai-nilai, maka yang terjadi adalah
bencana dan malapetaka nilai dan etika manusia yang jika tidak menerapkan
aksiologi dalam pengetahuan yang didapatkan.
C.
Manfaat Aksiologi Bagi Pengetahuan Islam
Ilmu pengetahuan yang dicapai oleh manusia haruslah bertujuan:
1. untuk
mencapai kebenaran obyektif sesuai dengan kerangka dasar keilmuan, yang didalam
Al-Qur’an diungkapkan dengan tema faatba’a sababa (untuk mengungkap hukum sebab
dan akibat), yang kemudian di kenal sebagai hukum kausalitas alam, yang oleh
Al-Qur’an digambarkan tidak akan mengalami pergantiandan perubahan, sebagaimana
difirmankan dalam (QS. Fathir : 43).
اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ
السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا
سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ
اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
Artinya: “karena kesombongan (mereka) di muka
bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan
menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka
nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang
yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi
sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi
sunnah Allah itu”.
Yang dimaksud dengan sunah orang-orang yang
terdahulu ialah turunnya siksa kepada orang-orang yang mendustakan rasul. (QS.
Fathir : 43).
2.
untuk tujuan kesejahteraan mansuia,
yang oleh Al-Qur’an digunakan tema wa sakhkhara lakum (Kami tundukkan
untuk kamu), bahkan lebih dari itu untuk memakmurkan dunia sebagai khalifah.
Misalnya dalam ( QS.Al-Jatsiyah 13):
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Dan Dia telah menundukkan untukmu
apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat)
daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”. (QS. Al-Jatsiyah :13).
3.
Bahwa ilmu pengetahuan yang dicapai
oleh manusia, dalam pandangan Al-Qur’an untuk diamalkan sebagai hamba Allah,
sebagaimana yang difirmankan dalam (QS. Al-Saff :3):
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا
تَفْعَلُونَ
Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah
bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Al-Saff :3).
Dan hikmah Arab banyak disebutkan tentang kewajiban mengamalkan
ilmu pengetahuan , diantaranya “Ilmu yang dtidakdiamalkans eperti pohon yang
tak berbuah”; “Orang berilmu yang tidak mengamalkannya, kelak diazab dalam
kuburnya sebelum para penyembah berhala”.
Lebih dari itu, Islam juga mengatur bagaimana seseorang mengamalkan
ilmu pengetahuan yang telah didapat, dan hendaknya sesuai dengan al-hal berikut
ini[18]:
Pertama, harus tepat sasaran, dan bertujuan untuk kemaslahatan
manusia sesuai dengan spirit syari’at Islam itu sendiri yang dibangun di atas
azas maslahat (al_Masali al-mursalah), sehingga ilmu pengetahuan menjadi sarat
nilai dantidak bebas nilai.
Kedua, Tidak digunakan dalam rangka melanggar syari’at Islam,
sehingga merugikan orang lain, sebagaimana dikatakan: “Barang siapa yang
bertambah ilmunya dan tidak bertambah pula petunjuk Allah, niscaya ia semakin
menjauh dari Allah”; Dan dalam hikmah Arab disebutkan: “Ilmu pengetahuan tanpa
agama menjadi buta, dan agama tanpa ilmu pengetahuan menjadi lumpuh”.
Ketiga, untuk tujuan kebaikan (islah) menuju kehidupan
yang lebih baik, lebih berkualitas dan lebih bermakna.
Misalnya difirmankan oleh Allah dalam (QS. Al-Isra’:7):
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ
الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ
أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا
Artinya: “Jika
kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu
berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang
saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain)
untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana
musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan
sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.(QS. Al-Isra’:7);
juga difirmankan dalam ayat (QS. Al-A’raf :56)
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ
خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan
janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya
dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan
(akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada
orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-A’raf :56)
D.
Sumbangsih Aksiologi terhadap Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Konsekuensi dari segi aksiologi
adalah ilmu itu bebas nilai (value free of sciences) atau ilmu
netral nilai, aksiologi ini juga memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan
dalam perspektif Islam. Bentuk sumbangannya antara lain dapat dilihat dengan
adanya konsep Islamisasi ilmu pengetahuan.
Bagi Syed M. Naquib
al-Attas yang telah lama memahami secara akurat akar kebudayaan dan pandangan
hidup Islam di Barat, menegaskan bahwa penyebab kemunduran umat Islam adalah
rusaknya ilmu pengetahuan (corruption of knowledge) sehingga mereka
tidak bisa lagi membedakan antara kebenaran dan kepalsuan[19].
Dari kajiannya yang
sistematis, maka tokoh ini menawarkan agar ilmu pengetahuan yang telah rusak
itu, harus dibenahi secara fundamental yang kemudian dia istilahkan dengan
“Islamisasi Sains” Terkait dengan itu, maka berikut ini dikemukakan beberapa
proposisi tentang kemungkinan islamisasi sains, yakni [20]:
Dalam pandangan Islam,
alam semesta sebagai obyek ilmu pengetahuan tidak netral, melainkan mengandung
nilai (value) dan “maksud” yang luhur. Bila alam dikelola
sesuai dengan “maksud” yang inheren dalam dirinya akan membawa manfaat bagi
manusia. “Maksud” alam tersebut adalah suci (baik) sesuai dengan misi
yang emban dari Tuhan.
Ilmu pengetahuan adalah
produk akal pikiran manusia sebagai hasil pemahaman atas fenomena di
sekitarnya. Sebagai produk pikiran maka corak ilmu yang dihasilkan akan
diwarnai pula oleh corak pikiran yang digunakan dalam mengkaji fenomena yang
diteliti.
Dalam pandangan Islam,
proses pencarian ilmu tidak hanya berputar-putar di sekitar rasio dan empiri,
tetapi juga melibatkan al-qalb yakni intuisi batin yang suci.
Rasio dan empiris mendeskripsikan fakta dan al-qalb memaknai fakta,
sehingga analisis dan konklusi yang diberikan sarat makna-makna atau nilai.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan yang
diperoleh dari bab dua bisa ditarik kesimpulan bahwa: Aksiologi adalah suatu
nilai kegunaan ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh manusia yang dipandang dari
sudut pandang norma, moral, etika, dan estetika.
Yakni nilai kegunaan ilmu
pengetahuan yang ditinjau dari segi baik, bagus, dan buruknya suatu ilmu pengetahuan
untuk diterapkan.
Dan dalam hal ini dapat
dibagai dari berbagai aspek sudut pandang yang dipaparkan dalam Encyclopedia
of Philosophy, yaitu: Pertama,
Sebagai nilai untuk benda abstrak, dalam
artian sempit berarti baik, menarik dan bagus. Kedua, Sedangkan dalam artian
yang luas adalah mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran
dan kesucian. Sedangkan yang ketiga adalah Sebagai nilai kata benda yang
bersifat konkrit, hal ini sering dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang
bernilai.Sebagai nilai kerja keras dalam ekspresi menilai, memberi nilai atau
dinilai.
Al-qur’an memberi
gambaran bahwa penciptaan alam semesta dan seisinya, termasuk di dalamnya
manusia, tidak dengansia-sia, melainkan dengan satu tujuan, meskipun Al-Qur’an
sendiri tidak menyatakan secara jelas, namun melalui isyarat-isyarat yang dapat
ditangkap oleh manusia. Misalnya Al-Qur’an secara berulang-ulang menyebutkan
bahwa langit dan bumi dengan segala yang ada di antara keduanya sebagai
tanda-tanda kebesaran Allah, agar manusia mengabdi kepada-Nya dan tidak
menyombongkan diri.
[1]Suriasumantri,
Jujun S. Filsafat ilmu: Sebuah Pengantar Populer.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990
[10] Natawidjaja, Ilmu
dan Kebudayaan, http://blog.unsri.ac.id/heru_09/welcome/ilmu-dan-kebudayaan/mrdetail/12649,
Diakses 15 Oktober 2011
[12] Anwar Hidayat,
Ruang Lingkup Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi, (7
Januari 2014), http://plus.google.com/111276199303520579310,
Diakses 9 Oktober 2015
[14] Syam, M. Noor, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filasafat Pancasila,
Surabaya: Usaha Nasional, 1988, hal. 34-36
[19]
Al Ahwani, Ahmad Fuad. 2008. Filsafat
Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus
[20] Magnis, Frans Fron. 1985. Etika Umum
– Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral.Jakarta: Penerbit Kanisusu
joya shoes 182f4humsp136 joyaskodanmark,joyaskonorge,joyaskorstockholm,joyacipo,zapatosjoya,joyaschoenen,scarpejoya,chaussuresjoya,joyaschuhewien,joyaschuhedeutschland joya shoes 962a7cmvdb400
BalasHapus